Selasa, 19 Oktober 2021

TNI AL Bangun Stasiun Bantu Kapal Selam di Natuna

6 April 2021
Salah satu kapal selam RI (Foto : istimewa)

Jangkauan-Natuna. Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL) mulai membangun Stasiun Bantu (Sionban) kapal selam yang akan menjadi salah satu stasiun pendukung bagi operasional kapal-kapal selam Republik Indonesia.

Pembangunan Sionban ditandai dengan penandatanganan prasasti oleh Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Yudo Margono, S.E., M.M., di Selat Lampa, Natuna, Kepulauan Riau, Senin, (5/4/2021).

TNI Angkatan Laut tetap berkomitmen bahwa peningkatan sarana dan prasarana pendukung tugas operasi merupakan prioritas dalam menuju TNI Angkatan Laut yang profesional, mandiri dan tangguh.

Penandatanganan Prasasti pembangunan Sionban kapal selam dan sekaligus peresmian Mess Tjiptadi merupakan momentum bersejarah terutama untuk jajaran Koarmada I sekaligus sebagai ungkapan rasa syukur atas selesainya pembangunan sarana dan prasarana pendukung Alutsista dan Prajurit TNI Angkatan Laut.

Pembangunan Sionban Kapal Selam ini  akan dibangun di lahan seluas 1.050 m2, dengan bangunan dua lantai seluas 1.008 m2. Sionban di Natuna akan menampung daya listrik dari PLN sebesar 555 KVA untuk aliran darat dukungan kapal selam. Sementara itu, Mess Tjiptadi Lanal Ranai yang memiliki fasilitas 11 kamar dibangun di atas luas tanah 1.100 m2 dengan luas bangunan 585 m2.

Kasal mengatakan bahwa, pembangunan sarana dan prasarana pendukung ini bukan tanpa perjuangan, terlebih sampai saat ini, situasi pandemi Covid-19 masih terus memberikan dampak signifikan terhadap roda perputaran ekonomi bangsa yang secara langsung telah berimbas pada refocusing dan realokasi anggaran negara termasuk di dalamnya anggaran pertahanan.

Kasal menambahkan bahwa TNI AL perlu menyikapi perkembangan lingkungan strategis saat ini dengan bijak. Apalagi perairan Natuna Utara saat ini merupakan wilayah perairan yang cukup menarik perhatian bagi negara-negara di Kawasan. Adanya perebutan kepentingan antara dua negara besar bukan tidak mungkin akan memberikan dampak bagi negara Indonesia. Selain itu juga sengketa wilayah perbatasan masih menjadi tren bagi bangsa-bangsa yang berada di Kawasan perairan Natuna Utara.

“Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan harga mati. Sebagai prajurit kita akan senantiasa terpanggil ketika kedaulatan negara kita terancam. Maka, wajib bagi kita dimasa damai ini untuk terus berbenah, terus membangun kekuatan sehingga ketika Ibu Pertiwi memanggil, kita sudah siap !!!”, tegas Laksamana Yudo.


berita terkait
Komentar
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments