Selasa, 19 Oktober 2021

Model PJJ, Orang Tua “Menentukan” Hasil Belajar Anak

16 March 2021
Orang tua mendampingi anak belajar (foto: shutterstock.com)

Jangkauan-Jakarta. Tidak terasa sudah setahun pandemi Covid-19 menghantam negeri ini. Dampaknya pun masih sangat dirasakan, salah satunya tetap dilaksanakannya Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) bagi anak sekolah dari Paud hingga perguruan tinggi.

Model pembelajaran yang dikenal juga dengan belajar daring dengan memanfaatkan fasilitas internet plus gadget yang ada (smartphonel, PC, Ipad dll) pada awalnya cukup positif karena dapat menggantikan aktifitas KBM konvensional berupa tatap muka di sekolah.

Meski terbilang cukup bagus namun seiring berjalannya waktu, terbukti kurang efektif salah satunya untuk rekam jejak peningkatan belajar anak. Untuk PJJ di lingkup SD misalnya, muncul kecenderungan peran orang tua lah yang paling menonjol yang ikut menentukan hasil belajar anak.

Orang tua yang lebih mampu, berpendidikan, menguasai materi serta memiliki waktu luang lebih banyak untuk anak akan menjadi faktor penentu peningkatan hasil belajar anaknya. Sebaliknya bagi orang tua yang “pas-pasan” dari beberapa aspek, pendidikan terbatas, awam dengan materi belajar serta tidak punya waktu untuk mendampingi si anak akan juga mempengaruhi hasil belajar anak.

“ Anak Saya namanya Bagus, sekarang kelas VI. Dulu saat kelas IV, selama belajar seperti biasa di sekolah, prestasi anak saya cukup tinggi, rankingnya pasti masuk sepuluh besar. Nah sekarang, saat PJJ ini anak saya benar-benar drop, nilainya anjlok. Sudah belajarnya ribet pakai HP dan internet, kalau ada tugas maupun ulangan, ia hanya bisa belajar sendiri, nyari dan ketik sendiri di google, tidak ada yang bisa membantu karena saya dan bapaknya harus kerja serabutan mencari nafkah, cuci baju orang. Terkadang dia ngiri kepada temannya yang tiap hari katanya didampingi oleh orang tua atau kakak-kakaknya sehingga nilai tugas, nilai harian maupun ulangannya tinggi-tinggi ” demikian keluh seorang ibu yang anaknya belajar di salah satu SD Negeri di Cilandak Jakarta Selatan.

Apabila dievaluasi secara mendalam, memang dampak pandemi bagi kelompok ini cukup besar dan sangat mempengaruhi hasil belajar anak-anak mereka. Sebelum pandemi, mereka sangat mengandalkan guru di sekolah, bingung dan tidak mengerti terhadap pelajaran tertentu, mereka dapat bertanya dan menerima jawaban langsung dari sang guru di sekolah. Kalau saat ini, mereka hanya mengandalkan diri sendiri sesuai dengan kemampuan yang mereka miliki, tidak ada polesan langsung dari guru atau juga bimbingan dari orang tua. Padahal di antara mereka, banyak “Bagus-Bagus” yang lain, yang dalam keterbatasannya mampu berprestasi di sekolah.

“ Bagaimana saya mau bantu anak-anak. Sudah waktunya tidak ada karena harus jualan, pun kl saya lihat, saya bingung dan tidak mengerti dengan pelajaran anak-anak jaman sekarang. Sulit-sulit “ kata ibu Asti (nama samaran), seorang ibu tukang sayur yang merupakan orang tua murid dari seorang pelajar SD dari sekolah yang berbeda dari ibu yang pertama.

Itulah sebagian fakta model PJJ yang saat ini masih berlangsung yang perlu menjadi evaluasi bagi pemerintah. Untuk solusi dan saran bagaimana menyelesaikan permasalahan ini, silahkan dapat diisi dalam kolom komentar di bawah. Salam. (M.Syafrudin/Redaksi Jangkauan)

berita terkait
Komentar
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments