Sabtu, 16 Oktober 2021

Megawati Teringat Cakra Manggilingan Saat Terima Gelar Profesor

11 June 2021
Prof Dr (HC) Megawati Soekarnoputri saat melakukan orasi di Unhan, Sentul, Bogor, Jawa Barat. (Screenshot Youtube Universitas Pertahanan OFFICIAL)

Jangkauan-Bogor. Presiden ke-5 Republik Indonesia yang juga Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri mengaku teringat pada falsafah Jawa, Cakra Manggilingan, saat menerima gelar Professor kehormatan dengan status Guru Besar Tidak Tetap dari Universitas Pertahanan (Unhan) RI.

Cakra manggilingan adalah falsafah Jawa yang artinya ialah bentuk roda yang selalu berputar atau menggelinding.

“Jadi pemberian gelar profesor ini semakin menyadarkan saya bahwa hidup itu sebagai falsafah Jawa, ada namanya cakra manggilingan,” ujar Megawati dalam Pengukuhan Guru Besar Tidak tetap Universitas Pertahanan RI di Sentul, Bogor, Jawa Barat, Jumat (11/6/2021) seperti dilansir dari cnnindonesia.

Ia menyatakan gelar profesor yang diterimanya membawa tanggung jawab tersendiri. Putri dari proklamator dan Presiden pertama RI Sukarno itu menuturkan bahwa manusia harus menerima bahwa dunia berputar sebagai roda kehidupan.

Megawati menceritakan bahwa dirinya lahir di Gedung Agung Yogyakarta. Kala itu, pusat pemerintahan Indonesia tengah dipindah ke Yogyakarta berkenaan dengan situasi keamanan yang tidak kondusif pascaproklamasi kemerdekaan.

Baca juga : https://www.jangkauan.com/unhan-bakal-beri-gelar-profesor-kehormatan-pada-megawati/

https://www.jangkauan.com/daftar-16-universitas-terbaik-indonesia-menurut-qs-wur-2022/

“Jadi praktis keluarga kami, keluarga presiden baru bisa pindah ke Jakarta tahun 1950,” kenangnya.

Waktu terus berjalan. Megawati dan keluarga besar Sukarno melanjutkan hidup laiknya orang biasa. Menurut Megawati, masa-masa setelah Sukarno dilengserkan adalah periode yang sulit baginya dan keluarga.

“Tetapi akhirnya begitu lah yang seperti saya katakan roda berputar,” kata mega.

Ketua Umum PDIP ini kemudian menceritakan kala dirinya memutuskan terjun ke politik pada masa Orde Baru. Dia menjadi anggota DPR hingga tiga periode.

Kariernya terus menanjak, hingga kemudian menjadi Presiden kelima RI. Sebagai informasi, kala itu Megawati yang menjabat Wakil Presiden naik jabatan menggantikan Presiden keempar RI Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang dimakzulkan MPR RI pada 2001 silam. Di bawah pemerintahannya, Megawati pun mengawal Indonesia mencetak sejarah melaksanakan Pemilihan Presiden secara langsung pada 2004 silam.

Berkaca dari perjalanan hidupnya selama ini, Megawati menganggap itu bukti bahwa hidup memang seperti roda yang terus berputar.

“Sejarah memanggil saya untuk pertama kali menjadi anggota DPR RI sampai tiga periode. Terpotong dua tahun karena lalu menjadi wapres dan setelah itu menjadi Presiden ke-5 Republik Indonesia,” ucapnya.

Baca juga : https://www.jangkauan.com/ranking-universitas-ui-terbaik-di-indonesia-urut-194-di-asia/

https://www.jangkauan.com/mendikbudristek-minta-sekolah-harus-segera-dibuka/

 Megawati resmi diberikan gelar profesor kehormatan dengan status guru besar tidak tetap oleh Unhan. Acara pemberian dilakukan dihelat di kampus Unhan, Sentul, Bogor, Jumat (11/6).

Pemberian gelar untuk Megawati ditetapkan lewat Keputusan Mendikbudristek RI Nadiem Anwar Makarim Nomor 332371/mpk.a/kp.05.00/2021.

“Terhitung mulai tanggal 1 Juni 2021 diangkat dalam jabatan profesor dalam ilmu kepemimpinn strategi. Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 20 Mei 2021 Mendikbudristek RI Nadiem Anwar Makarim,” tutur Sekretaris senat akademik Unhan.

Saat menghadiri acara pemberian gelar, Megawati didampingi Menteri Pertahanan yang juga Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto. Selain itu, dia juga didampingi tiga anaknya yakni Mohammad Rizki Pratama, Puan Maharani dan Prananda Prabowo.

Sejumlah tokoh dan pejabat pun terlihat hadir dalam prosesi pemberian profesor kehormatan pada Megawati tersebut di Unhan. 

Beberapa di antaranya Ketua MPR Bambang Soesatyo, Menteri Sosial Tri Rismaharini, Mendikbudristek Nadiem Makarim, Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Tjahjo Kumolo.

Terihat pula Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono, Sekretaris Kabinet Pramono Anung, Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Jenderal Pol (Purn) Budi Gunawan. Pun, terlihat tiga jajaran kepala staf angkatan di TNI, hingga Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil.

Baca juga : https://www.jangkauan.com/ranking-universitas-ui-terbaik-di-indonesia-urut-194-di-asia/

https://www.jangkauan.com/tawaran-menarik-dikti-untuk-mahasiswa/

berita terkait
Komentar
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments