Sabtu, 27 November 2021

Bang Jangkau : Bom Bunuh Diri itu Apa….?

29 March 2021

Bang Jangkau. Bom bunuh diri itu apa? …… Demikian celoteh bocah lelaki kecil yang sudah sepuluh tahun menghiasi dan mewarnai kebahagiaan keluarga. Vio, demikian bocah ini dipanggil sehari-hari. Di suatu sore, hari ahad kemarin melontarkan pertanyaan sederhana itu. Di depannya, sebuah televisi kecil layar tabung ukuran 17 inchi sedang menayangkan insiden ledakan bom bunuh diri di gereja katedral Makassar pada Minggu, 28 Maret 2021 kemarin. Aku yakin dari sini pertanyaannya muncul.

Untuk menjawab pertanyaan sederhana itu, aku pun mencoba menyelami dan memahami sejauhmana pola berpikir anak dalam mencerna suatu kejadian. Aku yakin insiden atau kejadian seperti itu belum dipelajari di sekolah, ia hanya tahu dan berusaha mencari tahu secara mandiri sesuai dengan kemampuannya.

Jawabanku sederhana, bom bunuh diri adalah bom yang digunakan dengan sengaja untuk membunuh dirinya, meledakkan dirinya sendiri. Kenapa ada orang yang mau membunuh diri menggunakan bom seperti itu? Jawabnya sederhana juga. Ia ingin membuat kerusakan yang besar dan hebat, membuat banyak yang akan mati seperti dirinya, membuat orang shock, situasi kacau, masyarakat takut dan sebagainya.

Kalau dilihat dari akibatnya, sebenarnya yang paling merugi adalah si pembawa bom bunuh diri itu. Apa yang ia dapatkan? Tempat terbaik setelah mati, sesuai keyakinannya? Tidak juga karena secara universal seluruh agama di dunia tidak setuju, melarang dan mengutuk pelaku bom bunuh diri itu. Coba bayangkan, apabila dalam satu kali kejadian bom bunuh diri terdapat sepuluh orang meninggal, berapa orang yang akan terkena dampaknya. Kalau satu orang menghidupi empat orang (isteri dan 2 anak) maka praktis empat puluh orang akan “menderita” karenanya. Belum lagi yang luka-luka dan cacat, kerusakan yang ditimbulkan dan dampak psikologis bagi masyarakat yang nilainya tidak terukur.

Jawaban sederhana itu, sepertinya diiyakan si kecil sehingga akupun akhirnya kembali dengan kesibukanku. Satu hikmah yang dapat diambil dari bincang-bincang kecil dengannya adalah bahwa anak-anak seusia mereka memang sedang berupaya mencari suatu ketegasan/ keyakinan dari apa yang sebenarnya ia sudah ketahui. Mereka membutuhkan gambaran dan penjelasan yang lebih lengkap dengan contoh sederhana sesuai dengan batasan usia mereka.

Dalam situasi seperti itu, orang tua harus siap menjadi kamus berjalan, kamus kehidupan, kamus peristiwa dan kamus rujukan bagi anak-anak. Untuk menjadi ini tidak usah pintar-pintar amat, yang penting berusahalah masuk ke dunia mereka, dan isilah bagian-bagian dari mereka yang masih kosong atau bagian-bagian yang masih kabur menjadi jelas.

Semoga langkah kecil dan sederhana yang dimulai dari keluarga dapat menjadikan mereka generasi penerus bangsa yang cerdas, pintar, bertanggung jawab dan jauh dari perbuatan/ tindakan yang merugikan diri sendiri, keluarga, masyarakat , negara dan bangsa. Aamiin.

Jakarta, 29 Maret 2021,
Bang Jangkau

berita terkait
Komentar
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments