Selasa, 19 Oktober 2021

Betulkah Nanggala Overload? …….

28 April 2021
Ilustrasi kapal selam KRI Nanggala 402 (Foto : istimewa)

Bang Jangkau . Di tengah suasana duka atas gugurnya 53 prajurit terbaik TNI AL serta masih dilaksanakannya  upaya pencarian dan evakuasi korban / badan kapal selam KRI Nanggala 402, muncul segelintir isu tidak sedap terkait musibah yang mengiringi kepergian para prajurit tersebut.

Media Korsel Hankook Ilbo melempar isu bahwa kapasitas KRI Nanggala 402 saat kejadian dilaporkan overload, di mana kapal selam hanya bisa diisi 43 orang saja. Selanjutnya ada pula seorang oknum anggota DPR RI yang berspekulasi dan bicara ke media bahwa kapasitas KRI Nanggala seharusnya 38 awak, sehingga jelas overload apabila diisi 53 awak.

Demikian pula ada yang mengaitkan jumlah tempat tidur di KRI Nanggala yang ternyata hanya tersedia 33 tempat tidur, dalam arti seharusnya Nanggala diawaki 33 orang bukan 53 orang.

Nyanyian sumbang tersebut dibantah oleh TNI AL. Asisten Perencanaan Anggaran Kepala Staf Angkatan Laut (Asrena KasaL) Laksamana Madya TNI Muhammad Ali dalam konferensi pers di Markas Besar Angkatan Laut (Mabesal) Cilangkap, Jakarta, Selasa (27/4/2021) menyampaikan bahwa berita KRI Nanggala kelebihan muatan atau kelebihan personel pengawak,  sama sekali tidak benar dan tidak berdasar.

Baca juga : https://www.jangkauan.com/tni-al-tidak-benar-kri-nanggala-kelebihan-muatan/

Sebagai orang awam dengan per-kapal selam-an, Bang Jangkau mau coba-coba analisa terkait masalah dugaan overload ini.

Dalam bahasa Indonesia, “overload” memiliki makna “beban atau jumlah yang berlebih”. Istilah ini digunakan untuk menggambarkan kondisi ketika usaha suatu objek tidak mampu lagi untuk mengakomodasi beban atau jumlah yang melebihi kemampuannya.

Dari beberapa kajian dan penelitian ilmiah serta didukung dengan data empiris yang kuat, diketahui bahwa kelebihan muatan kapal adalah sesuatu yang lumrah terjadi dan diperbolehkan asalkan sesuai dengan batasan maksimum sesuai ketentuan yang ada.  Pada umumnya batas maksimal jumlah muatan yang bisa ditolerir sebuah kapal maksimal 50 persen dari kapasitas normal.

Sebagai contoh, kapal penumpang KM Nusantara pada kondisi normal sesuai manifest berkemampuan mengangkut 251 orang. Namun kapal ini masih dianggap aman untuk beroperasi maksimal dengan penambahan penumpang sebanyak 50% atau total penumpang 377 orang. Lebih dari itu, kapal akan terbalik. ( lihat Jurnal “Analisis Sifat Laik Laut Kapal Penumpang KM. Nusantara 76 Pada Kondisi Overload” yang ditulis Sonia Liolita,  Wilma Amiruddin dan Muhammad Iqbal dari Departemen Teknik Perkapalan, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro).

Bagaimana dengan kapal selam Nanggala, dimana ada yang berpendapat daya tampungnya maksimal 43 orang atau pendapat lain 38 orang, tapi saat kejadian diisi 53 orang?

Menurut TNI AL, sudah menjadi hal biasa bahwasanya Nanggala membawa sekitar 50 personel. Untuk tugas penyusupan dengan membawahi plus satu regu pasukan khusus (satu regu itu tujuh orang), Nanggala dapat membawa awak total 57 orang. Saat kejadian TNI AL hanya membawa 53 orang dan hanya membaa tiga torpedo (seharusnya kapasitas kapal selam buatan tipe Cakra ini membawa delapan torpedo) di mana masing-masing torpedo beratnya hampir 2 ton.

Lihat juga : https://www.jangkauan.com/kri-nanggala-terbelah-tiga-53-awak-dinyatakan-gugur/

Dari gambaran di atas, bang Jangkau ikut membenarkan dan setuju dengan pendapat TNI AL bahwa Kapal Nanggala 402, saat tenggelam tidak overload atau kelebihan muatan. Seandainya manifest utama sesuai pernyataan Hankook 43 orang, tapi Nanggala membawa 53 orang, ini pun masih bisa aman dan ditolerir.

Dari sisi beban yang dibawa pun, Nanggala termasuk belum berkategori overload. Saat kejadian Nanggala membawa tiga biji torpedo dari 8 biji yang harusnya dibawa, di mana masing-masing torpedo beratnya mencapai 2 ton, maka Nanggala jelas sudah mengurangi beban muatan sebanyak 5 x 2 ton = 10 ton (bandingkan dengan berat badan manusia).

Faktor lain yang penting diketahui adalah bahwa tidak mungkin TNI/ TNI AL akan melakukan tindakan yang di luar ketentuan terkait daya muat kapal selamnya yang berakibat fatal dan membahayakan prajuritnya.

TNI AL dipastikan sangat memperhitungkan kelaiklautan seluruh alutsista kapal perangnya sebelum dioperasikan, diantaranya memperhitungkan kondisi kapal apakah memenuhi persyaratan keselamatan kapal, pengawakan, garis muat, pemuatan, kesejahteraan awak kapal dan kesehatan ABK serta manajemen keselamatan dan keamanan kapal untuk berlayar di perairan tertentu dan sebagainya.

Isu lain terkait jumlah tempat tidur KRI Nanggala yang hanya tersedia 33 tempat tidur. Ini juga sudah dijawab oleh TNI AL bahwa jumlah itu bukan mewakili jumlah muatan ABK. Selama beroperasi, sesua tradisi TNI AL, jumlah personel yang ada di kapal akan terbagi dalam tiga shift jaga (3 Divisi Jaga) dimana sepertiga kekuatan aktif bertugas, sepertiga cadangan/siaga dan sepertiga istirahat.

Lihat juga : https://www.jangkauan.com/tni-al-siapkan-2-skenario-evakuasi-nanggala-dari-kedalaman-850-m/

Dari referensi dan fakta di lapangan, sebuah kapal selam bisa dikatakan overload apabila daya muat sudah menyalahi ketentuan tentang ambang batas maksimum yang disetujui.

Kejadian yang menimpa kapal selam K-152 Nerpa, bisa dijadikan bahan pembanding. Pada tanggal 9 Oktober 2008, kapal selam bertenaga nuklir milik Negeri Beruang Merah  ini mengalami kecelakaan yang menewaskan 20 orang dan puluhan lainnya luka-luka.

Penyebab semula diduga karena sistem kebakaran yang tak berfungsi. Tapi, menurut para ahli dan veteran, human error atau kelalaian manusia dan muatan melebihi kapasitas alias overload yang jadi penyebab utama.  Ternyata kapal selam K-152 Nerpa mengangkut 208 penumpang ketika celaka saat di uji coba di Laut Jepang, jumlah ini tiga kali lipat atau 300% dari kriteria batas muatan, yakni 73 penumpang.

(Bang Jangkau-M. Syafrudin)

Lihat juga : https://www.jangkauan.com/armada-kapal-nato-pernah-dikelabui-cakra-saudara-kembar-nanggala/

berita terkait
Komentar
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments