Selasa, 18 Januari 2022

Bang Jangkau : Belajar dari Kang Darmo

30 March 2021

Kang Darmo, demikian aku memanggilnya. Usianya lebih dari lima puluh tahun. Tubuhnya tinggi sedang dengan rambut yang selalu disisir rapi. Kata orang ia tipe perfeksionis, seseorang yang berupaya menempatkan dirinya agar selalu perfect “sempurna”, bahkan saking pengin sempurnanya, dalam hal-hal yang kecil dan sepele, ia tetap diperhatikan betul.

Kalau mau tidur, saya harus memastikan betul pintu dan jendela rumah terkunci, air kran kamar mandi tidak terbuka, padahal saya yakin sebelumnya sudah saya cek, tapi kok serasa ada yang kurang kalau tidak mengecek dan memastikannya lagi, katanya ketika suatu saat bercerita tentang “penyakit” yang satunya itu. Aku Cuma tertawa, bahkan meledeknya dengan tanda jempol dua tangan sekaligus. “Perfect” asal jangan urusan di tempat tidur, bisa berabe, kataku yang disambutnya dengan ketawa lepas khasnya.

Aku mengenal dan bersahabat dengan kang Darmo ini lebih dari lima tahun, dulu sama-sama satu kampus dan teman kuliah di Es Dua, sama-sama hobi dalam berburu buku-buku referensi, Perpusnas dan PDII Lipi adalah tempat yang sering menjadi tempat kami berburu bersama. Selepas dari itu ia berhasil menjadi anggota Dewan, hehehe……. Aku sempat ngledek, awas hati-hati, jangan sampai pas ada rapat dewan, bolak-balik ke kamar mandi hanya karena ingin memastikan kran airny sudah tertutup belum! Hehehe.

Lima tahun menjadi anggota Dewan, ia pamitan, mengaku kapok, kurang sreg, dan mulai jenuh dengan perpolitikan yang katanya banyak “kotorannya”, mau pulkam, ngurus sawah dan ladang orang tua, maklum anak satu-satunya dari salah satu orang terpandang di daerahnya. Satu pesan yang masih aku ingat, ia ingin mencoba menikmati kehidupan yang aman dan tenteram di pedesaan, jauh dari hiruk pikuk kebisingan kota, jauh dari politik dan jauh dari tetek bengek infomasi yang memusingkan kepala.

Kalau bisa, saya mau buang ini HP, Ipad, Notepad, dan segala gadget yang ada, biar kita tenang. Saya siap untuk buta informasi, seperti dulu waktu kecil, kuping ini hanya mendengarkan celoteh si mbok-mbok yang ngomongin harga cabai yang mahal atau bapak-bapak yang ngobrolin irigasi sawah yang tersendat-sendat ketika memasuki musim kemarau. Demikian katanya. Hebat!! kataku waktu itu, memang bisa? Pasti bisa, katanya yakin seratus persen.

Hari ini setelah lebih dari lima tahun turun ke desa, mengurusi sawah ladangnya yang puluhan hektar, aku mendengar kembali suara ketawa lepasnya tersebut, hahahahaha…..ia mampir di gubuk ku dengan segudang cerita baru dan dengan gayanya yang masih seperti dulu.

Hebat jaman sekarang bro, demikian ia mengawali ceritanya. Saya sudah hampir berhasil keluar dari zona ku yang dulu, sudah enak dan tenang di kampung. Tapi ada juga godaannya. Masih ingat khan dulu saya pengin merasakan kembali jaman keemasan sewaktu masih kecil di kampung, tenang dan damai mendengarkan celoteh si mbok-mbok ngomongin harga cabai. Masih, jawabku enteng. Nah, saya merasakan itu, cuma hanya beberapa saat. Selanjutnya kamu tahu ndak, si mbok-mbok dan si mbah-mbah obrolannya berubah seratus delapan puluh derajat. Dari cabai, kini diselingi dengan Vaksin, AHY, Moeldoko bahkan teroris pun diobrolin. Semuanya gara-gara HP itu, jadi informasi sekecil apa pun dapat segera diketahui orang-orang desa.

Aku tertawa terbahak-bahak mendengar ceritanya tersebut. Terus, sekarang gimana, demikian tanyaku. Yah, terpaksa aku ngikutin si mbok-mbok itu, terjun kembali seperti dulu. Hehehe, benar-benar gila dan luar biasa sihir dan magnit yang namanya politik.

Jakarta, 30 Maret 2021
Bang Jangkau (M. Syafrudin)

berita terkait
Komentar
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments