Selasa, 19 Oktober 2021

Awak Kapal Selam, Dididik Untuk Terima Tekanan

24 April 2021
Calon awak kapal selam sedang mengikuti pendidikan survival di Pantai Baruna Purboyo Malang 31-3-2021 (Foto: Dispen Koarmada II)

Bang Jangkau. Di jajaran TNI AL, ada empat jenis pendidikan khusus untuk mendidik prajurit-prajurit pilihan yang memiliki talenta khusus. Keempat jenis pendidikan itu adalah Pendidikan Intai Amfibi (Taifib), Komando Pasukan Katak (Kopaska), Juru Selam (Jursel) dan Calon Awak Kapal Selam (Cawakasel). Keempat jenis pendidikan ini digabung menjadi satu dengan sebutan Pendidikan (Dik) Brevet TNI AL.

Calon prajurit Taifib dididik di Sekolah Perang Khusus (Serangsus) Komando Pendidikan Marinir (Kodikmar) Kodiklatal, sedangkan Kopaska, Jursel dan Cawakasel digembleng di Pusat Pendidikan Khusus (Pusdiksus) Komando Pendidikan Operasi Laut (Kodikopsla) Kodiklatal Surabaya.

Sebagaimana pendidikan untuk prajurit khusus lainnya, hingga saat ini, tidaklah mudah bagi seorang prajurit TNI AL untuk bergabung dan mengikuti pendidikan calon awak kapal selam ini. Bagi para prajurit TNI AL dari seluruh satuan yang tersebar dii seluruh tanah air harus mengikuti seleksi super ketat dengan standard kelulusan yang mematok nilai di atas rata-rata untuk hampir seluruh jenis tes mulai dari kesehatan, kesamaptaan jasmani, psikotes hingga tes Kesehatan Jiwa (Keswa).

Baca juga : https://www.jangkauan.com/breaking-news-kapal-selam-nanggala-loss-contact-di-perairan-bali/

https://www.jangkauan.com/begini-misi-rumit-penyelamatan-kru-kapal-selam/

Karena tingginya standard kelulusan yang dipatok panitia ini maka tak heran dalam setiap gelombang pendidikan hanya puluhan prajurit dari strata Perwira, Bintara dan Tamtama yang lulus dan lolos seleksi. Dari 200-300 prajurit pilihan yang sudah terseleksi di satuan-satuan, biasanya untuk Dik Brevet termasuk Cawakasel yang lulus seleksi hanya 10-25 personel.

Lulus dari seleksi, para Cawakasel selanjutnya digembleng dan digodok selama sembilan bulan di Pusdiksus Kodikopsla Kodiklatal Surabaya. Di tempat ini tidak ada kata-kata santai. Dari awal mereka masuk, gemblengan dan tekanan luar biasa akan dihadapi para Cawakasel. Mereka harus dibiasakan hidup dalam tekanan dan siap menanggung risiko besar sesuai dengan tempat penugasan mereka di dalam ruangan sempit berdinding baja tebal, yang melayang di dalam air bertekanan tinggi di laut dalam yang disebut kapal selam.

Para Cawakasel dididik secara bertahap dengan materi khusus pendalaman tentang ke-kapal selam-an. Salah satu materi yang diajarkan kepada mereka ini antara lain free escape yaitu latihan penyelamatan personil  bagi awak kapal selam apabila terjadi kedaruratan dan kapal tidak bisa timbul ke permukaan.

Lihat juga : https://www.jangkauan.com/menhan-prabowo-resmikan-kapal-selam-alugoro-405/

https://www.jangkauan.com/mengenang-tragedi-kapal-selam-rusia-kursk/

Latihan biasanya dilaksanakan selama tujuh hari di Diving Tank, Dinas Penyelaman Bawah Air (Dislambair) Koarmatim, Surabaya. Free escape merupakan dasar ketrampilan yang wajib dijalani bagi setiap personil yang akan mengawaki kapal selam setelah mendapatkan teori Pendidikan Dasar Kapal Selam (PDKS).

Sebelum free escape di diving tank  digelar di kedalaman 15 meter, siswa akan menjalani beberapa tahap latihan terlebih dulu sebagai pemanasan. Tahap pertama mereka berlatih di kedalaman diving tank 5 meter berupa water trapen selama 15 menit, kemudian tahap ketahanan nafas dalam air selama satu menit, dan menyelam kedasar tangki tanpa peralatan.

Selain latihan tersebut,  siswa juga akan mendapatkan pelajaran mengenai penggunaan atau pengoperasian peralatan selam diantaranya penggunaan aqualung, masker, moutfish, pemberat (balas), dan fin dan kelengkapan lainnya.

Menjelang akhir pendidikan,  Cawakasel mengikuti latihan praktek berlayar.  Latihan praktek ini adalah untuk memberikan pengalaman praktek di lapangan kepada para siswa yang merupakan penjabaran dan aplikasi teori pada tahap pertama dan kedua yang sudah diterima di kelas. Pada latihan tahap tiga ini, seluruh siswa akan mendapatkan pelajaran mengenai penggunaan/ pengoperasian peralatan secara langsung dari kapal selam tipe 209.

Biasanya latihan praktek ini dilaksanakan selama dua bulan meliputi Peraturan Dinas Dalam TNI AL secara langsung di kapal, lattek pemasukan dan pengeluaran senjata torpedo, pengisian battery, pengoperasian seluruh pesawat sesuai kejuruan yang dimiliki dan diakhiri dengan praktek berlayar selama lima hari di laut. Usai tahap ini barulah para Cawakasel layak mendapatkan brevet kebanggaan Hiu Kencana.

Lihat juga : https://www.jangkauan.com/save-nanggala-402-2-kapal-malaysia-dan-singapura-otw-bali/

Gaji dan Tunjangan Lebih Tinggi

Bekerja dengan risiko dan tekanan yang lebih tinggi dibanding prajurit TNI pada umumnya membuat prajurit khusus kapal selam digaji lebih besar. Sesuai kepangkatan, gaji pokok para ABK kapal selam relatif sama dengan prajurit biasa, namun mereka mendapatkan “fee” masa kerja sehingga gaji mereka pada akhirnya relatif lebih tinggi.

Sebagai gambaran, penulis pada tahun 2010 berpangkat Serda dengan masa kerja (8) delapan tahun bergaji Rp 2.643.300, rekan seangkatan penulis Serda Budi yang bertugas di Kapal Selam ternyata bergaji Rp. 3.425.400,-. Selisih gaji yang ada ternyata dikarenakan Sersan Budi mendapat “fee” masa kerja 2 kali lipat, yang seharusnya 8 tahun menjadi 16 tahun.

Ternyata bukan ekstra masa kerja yang mereka dapatkan, seperti halnya para prajurit bertitel khusus, mereka juga mendapatkan tunjangan khusus Brevet, tunjangan menyelam, tunjangan risiko latihan dan lainnya sesuai aturan yang ada.

Gaji dan tunjangan yang besar tersebut adalah sesuatu yang wajar karena tekanan yang diterima awak kapal selam ini sangat besar, baik tekanan kerja maupun tekanan lingkungan tempat bekerja itu sendiri. Mereka bekerja seperti di dalam botol, situasi, atmosfir, dan psikologis yang sangat berbeda. Mereka pun terputus dengan dunia luar.

Kalau situasi cuaca tidak aman, para awak kapal selam ini bisa 40 hari nonstop di bawah air. Kesalahan sedikit saja yang mereka lakukan atau karena faktor alut sistanya yang sudah tua, mereka bakal menerima konsekuensi logis sebagai awak kapal selam, gugur bersama dengan bulatan baja berongga yang menjadi rumah kedua mereka.

Salam Bangga dan Hormat untuk Rekan-rekan Nanggala 402!!!.
Tabah Sampai Akhir… Wira Ananta Rudhiro.
Jakarta, 24 April 2021,
(2nd WO M. Syafrudin, SH, MH- Indonesian Marine Corps)

Lihat juga : https://www.jangkauan.com/34-kapal-dikerahkan-save-nanggala-402/

berita terkait
Komentar
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments