Sabtu, 27 November 2021

Aksi Bom Makassar dan Teror Mabes Polri, Pelaku Sel Lama

4 April 2021
Penangkapan terduga teroris oleh Densus 88 Antiteror Mabes Polri (Foto: Antara/Umarul Faruq)

Jangkauan-Jakarta.  Deputi VII Badan Intelijen Negara (BIN) Wawan Hari Purwanto mengatakan aksi bom bunuh di Gereja Katedral Makassar dan teror di Mabes Polri adalah pelaku sel lama. Namun menurut Wawan, cara perekrutan kelompok ini yang baru dengan menggunakan di media sosial.

“Kalau sel lama, ini rekrutmen baru, dengan memposting bisa melakukan tanya jawab, pola lama tapi caranya rekrutmen orang baru,” kata Wawan dalam diskusi bertema ‘Bersatu Melawan Teror’ dalam akun YouTube Sindo Trijaya, Sabtu (3/4) seperti dikutip dari laman merdeka.com.

Dia menjelaskan, sasaran kelompok ini generasi milenial yang tidak memiliki tanggungan. Serta lebih mudah diiming-iming untuk mati masuk surga. “Lebih berpikir ada iming-iming daripada susah-susah kita mati masuk surga,” kata dia.

Hal senada dikatakan mantan narapidana terorisme (napiter), Haris Amir Falah. Dia mengatakan kejadian teror bom kali ini adalah sel lama yang rutin melakukan kajian di Makassar. Dia mengatakan terdapat dua tempat yang jadi tempat dijadikan pembinaan.

“Ada dua tempat yang memang rutin dijadikan tempat oleh mereka untuk dijadikan pembinaan, dan pada saat yang tepat mereka melakukan aksi,” kata dia.

Dia mengatakan kejadian tersebut bukan hanya di Makassar. Tetapi juga sudah menjamur keseluruh penjuru Indonesia. Sebab hal tersebut adalah jaringan, walaupun sudah terputus mereka memiliki akar.

“Saya rasa bukan di Makassar tapi juga seluruh Indonesia, ini juga pasti tidak lepas dari sasaran yang mereka lakukan. Mereka punya satu akar, akar pemikiran yang ekstream kemudian di bawah pembinaan yang terus menerus yang mestinya harus masif melawan itu,” tandasnya. 

Sementara itu terkait teror bom di Mabes Polri, Wawan menyatakan Polri sudah mengantisipasinyta sejak Januari 2021  “Sebetulnya begini, Mabes Polri itu memang area pelayanan publik, sehingga tidak bisa tapi Mabes Polri sudah tahu ancaman Januari itu,” kata Wawan

Wawan menjelaskan pihak Mabes Polri pun meningkatkan capacity building. Yaitu dengan pengamanan yang melekat sehingga tidak mencolok demi keamanan masyarakat.

“Memang kita tidak ingin menyolok, agar pelayanan publik tidak terganggu sehingga ada gesekan bisa secara sigap diatasi. Meningkatkan capacity building dalam arti pengamanan melekat senjata tetap nempel di badan,sehingga ada pergerakan secepatnya diringkus,” tambahnya.

Sebelumnya diberitakan, rentetan aksi teror terjadi selama  dua pekan terakhir. Pada Minggu 28 Maret 2021 teror bom bunuh diri terjadi di Gereja Katedral, Makassar. Aksi tersebut dilakukan suami istri.

Kemudian pada Rabu (31/3) serangan teror terjadi di Mabe Polri, Jakarta Selatan. Teror ini dilakukan perempuan berinisial ZA (25). Dia beraksi sendiri dengan membawa airgun untuk menyerang petugas. Dia tewas setelah ditembak Polisi.

Penangkapan beruntun kemudian dilakukan tim Densus 88 anti teror setelah kejadian bom bunuh diri maupun di Mabes Polri. Sejauh ini sudah 55-60  terduga teroris ditangkap seperti diungkapkan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo dalam keterangan persnya, Sabtu (3/4/2021). 

Baca Juga : https://www.jangkauan.com/kapolri-60-terduga-teroris-diamankan-30-di-makassar/

berita terkait
Komentar
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments